Monthly Archives: March 2010

Nyanyian Rindu

Saya sudah dapat jawabannya. Ternyata lagu ini yang mengusik jiwa dan menarik-narik tangan saya untuk mengambil CD Ebiet G. Ade. Beberapa hari lalu tiba-tiba saya nyomot Album Best of the Best Ebiet G. Aneh.

Ya, aneh buat saya. Akhir-akhir ini saya hampir tidak pernah mendengarkan lagu-lagu Ebiet, memikirkan juga tidak. Fyiuh.. syairnyaaa.. *mewek* Entah keadaan apa yang membuat semua lagu Ebiet bagitu menyentuh sendi-sendi jiwa. Uhuk!!

Dulu saya sering mendengar kakak saya menyanyikan lagu-lagu Ebiet dan ikutan nyanyi sambil gitaran, tpi efek syair-syairnya kok ngga dahsyat seperti sekarang ya..

Ah, sudahlah.. saya mau menghayati dalam-dalam syair “nyanyian rindu” ini.

Coba engkau katakan padaku
Apa yang seharusnya aku lakukan
Bila larut tiba wajahmu membayang
Kerinduan ini semakin dalam

Gemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manis

Bila saja kau ada di sampingku,
sama-sama arungi danau biru
Bila malam mata enggan terpejam
Berbincang tentang bulan merah ho…

Du du du du du du du du du du du du du du du
du du du du du du du du du du du du du du du

Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi
Langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening, sejuk, segar

Kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas kau tersenyum?
Kapan lagi kita nyanyi bersama?
Tatapanmu membasuh luka, ho…

Du du du du du du du du du du du du du du du
du du du du du du du du du du du du du du du

puter, skip, puter, skip.. paragraf terakhirnya… *nyungsep*

Saya berpikir, sepertinya ini efek sering bergaul di twitter sama para purba yang minggu lalu bertubi-tubi bersyair purba@mbilung @ndorokakung dan @pamantyo.. kalian purba! aku purbi.. *eh. Mana syair-syair purba kalian.. aku mauu.. :))

*gambar adalah foto kami yang tersimpan baik di album photo google*

Advertisements

21 Comments

Filed under cinta, Uneg-uneg

PRECIOUS MOMENTs WITH BOB JAMES AND LEE RITENOUR

Yup.. JAVA JAZZ FESTIVAL. Saya tidak akan cerita pernak-pernik, suka duka, JJF. Semua orang yang datang ke JJF punya cerita masing-masing. Dari awal cita-cita besar saya nonton JJF adalah ‘DIPELUK LEE RITENOUR’ dan dapat ‘TANDA TANGANNYA DI GITAR SAYA’. Cita-cita yang aneh, ketinggian. Biarin! Namanya juga cita-cita.

Malam pertama, saya hanya fokus nonton ‘Bob James’. Ups, John Legend juga sih. 😀 Saya pun memaksakan diri untuk bisa berdiri persis di fence pembatas paling depan. Sukses. Saya berada sangat dekat dengan Bob James dan terus memerhatikan jari jemarinya menari. Saya terbius. Performance Bob James pun berakhir. Awesome! Semua penonton merangsek meninggalkan Hall D2. Tidak dengan saya. Entah siapa yang membawa saya, saya dengan mudah dan cepat bisa sampai di back stage, padahal tidak ada akses masuk bagi orang seperti saya. Tidak punya ID card khusus, bukan crew, bukan wartawan. Pengamanan sangat ketat. Tetapi saya bisa dapat jalan dan masuk ke dalam. Saya langsung naik ke atas panggung. Dalam keremangan dengan mudah saya menemukan Bob James di antara timnya. Hi!! kemudian kami bersalaman. It was great, awesome! Saya bilang saya membawa cd-cd albumnya dan minta tanda tangan. Off course!! Let’s find light. Oh my god, saya deg2an. Dan kami berjalan menuruni tangga panggung. Saya menggandengnya, khawatir terjatuh. Dan memang hanya saya dan Bob James yang menuruni tangga panggung. Sampai di bawah, para wartawan sudah mulai banyak berkumpul. Tetapi saya merasa punya ‘privilege’ karena saya yang menggandeng duluan. Saya lari mencari meja yg kosong dan agak terang dengan cahaya lampu. Sementara saya menyiapkan cd-cd ada beberapa wartawan yg mendahului wawancara dan berfoto. Akhirnya saya memberi kode ‘giliran saya’. Dan… duh, Bob James baiiiik sekali… dia menandatangani semua cd yang saya bawa, kemudian berfoto. Saya dipeluk. CD yang saya bawa kebetulan album2 Fourplay, karena saya siapkan untuk kencan dengan Lee Ritenour juga. Pada saat akan menandatangani salah satu album yang covernya bergambar 4 pasang sepatu, Bob James malah bikin tebakan. Which one is my shoes? I’ll give you prize if you’re right. Tpi saya salah tebak! haha.. Gak jadi dapet hadiah deh. Entah apa hadiahnya, mungkin saya akan diajak pulang ke rumahnya. hihi. Akhirnya dia menandatangani persis di sepatu miliknya. Senang, bahagia, deg-degan. Thank you.. thank you.. berulang saya ucapan terima kasih. Dia pun berterima kasih “thanks for collecting”. Ah, malam pertama yang indah.

Indahnya malam pertama membangkitkan semangat saya untuk mewujudkan cita-cita besar saya di malam kedua. DIPELUK LEE RITENOUR. Lagi ya.. DIPELUK LEE RITENOUR! hihi. Malam ini giliran Lee Rit manggung. Di sini, semua kenekatan saya berawal. Kebetulan saya membawa raul malam itu, karena ayahnya sedang berada di luar kota. Raul membuat saya tidak lincah malam itu. Doh! Panggung sebelum Lee Rit bubar, entah siapa yang baru saja pentas. Penonton berhamburan keluar. Saya malah merangsek ke dalam, menggamit raul. Kemudian ada himbauan kepada semua yang ada di dalam untuk meninggalkan ruangan karena akan dilakukan check sound untuk Lee Rit. Saya dan raul bergeming. Saya duduk ‘sebenernya sih ngumpet’ di tangga lighting atau entah apa namanya. Di situ ada beberapa orang yang sedang sibuk menyiapkan alat2. Singkat cerita, saya berhasil berkeliaran di Hall D1 yang hanya ada beberapa orang yang sibuk menyiapkan panggung. Pada saat check sound hampir beres, Lee Rit pun muncul melakukan check sound gitarnya. Saya menjerit. Lee Riiiit!! Seneng banget. Saya bisa berlama2 memandangnya, membiarkan eh, memerhatikan dia sibuk menyiapkan gitarnya. Check sound hampir beres, pintu dibuka. Fyuuh.. bruk bruk bruk penonton berlarian memasuki ruangan seperti gempa. Lee sempat kaget, dan tersadar penonton sudah mulai masuk, dia langsung meninggalkan panggung. Ruangan penuh sesak. Saya aman. Saya SUKSES lagi berada di baris paling depan. Dan.. wow!! Performance Lee Rit gak perlu saya ceritakan. Skip. AWESOME!!

Langsung ke cerita pengejaran saya untuk menemui Lee Rit. Pertunjukan sudah selesai. Seperti yang saya ceritakan, penjagaan VIP room sangat ketat. Saya menyampaikan keinginan saya kepada penjaga. NIHIL. Usaha keras saya tidak berhasil. Hati saya mengerut, kecewa. Lalu saya mencobanya lagi, kali ini ada 2 orang penjaga, tidak saya sangka salah satu dari mereka mengijinkan saya masuk. Pintu pagar dibuKa. Raul saya selipkan di pintu yang dibuka sedikit saja. Saya berhasil masuk. Dengan diantar penjaga tadi, saya sampai di ruangan besar di depan pintu VIP room. Saya menunggu sebentar. Lee baru saja menuruni panggung dan langsung bergegas masuk VIP room. Dia menolak wawancara dengan wartawan. I’ll be back. Begitu dia bilang. Saya memerhatikan suasana dan memahami bahwa Lee Rit perlu istirahat. Ya, saya sabar menunggu. Saya kemudian mencoba masuk ke VIP room dan berpapasan dengan manajernya. Lee masih perlu istirahat. Manajernya bilang. Ok. Tetapi saya sudah terlanjur memasuki VIP room. Kemudian saya mengeluarkan cd-cd saya di salah satu meja, jauh dari sofa tempat lee duduk. Selesai ‘menggelar’ cd saya keluar. Saya tahu saya harus menunggu di luar VIP room. Akhir pengejaran Lee Rit di VIP room ini menjadi tragedi buat saya. Pada saat saya duduk di kursi di ruangan di depan VIP room, saya didatangi 4 orang crew. Saya diinterogasi siapa yang membawa saya masuk. Saya tidak menunjukkan siapa orang itu. Saya bilang lupa namanya. Saya pun diminta untuk meninggalkan ruangan. Lantas, bagaimana dengan nasib cd-cd saya yang berharga itu. Jumlahnya 10. Huaa.. saya hampir menangis. Saya diinterogasi beberapa orang sampai akhirnya saya dibawa ke ruangan pimpinan keamanan. Saya dianggap penyusup. Intruder. Huhuhu.. Proses menunggu dan interogasi itu sungguh sangat melelahkan. Tapi, akhirnya 10 CD saya kembali. TANPA TANDA TANGAN. Saya keluar Hall D1 hampir jam 1 pagi. Saya gemetar. Kali ini gemetar takut. 😦

Saya sudah tahu, bahwa untuk mewujudkan cita-cita besar ‘DIPELUK LEE RITENOUR’ itu hampir tidak mungkin. Jauh hari sebelumnya saya sudah mencari-cari alternatif untuk menemukan cara bagaimana mewujudkannya. Saya mencari informasi ke sana sini, di mana para artis dan musisi JJF ini menginap. Saya mendapat informasinya. Hai Tik.. ;)) Makasih ya.. Mwah! Mereka menginap di Hotel Borobudur. Saya pun memesan kamar di Hotel Borobudur jauh hari sebelum acara ini. Demi cita-cita. Sebenarnya cita-cita saya kali ini lebih kelewatan. Pengen breakfast bareng Lee Rit. Hahaha. Ternyata memang tidak mulus kan usaha saya menemui Lee Rit di area JJF.

Kegigihan dan kuatnya keinginan saya untuk bertemu Lee Rit, mempertemukan saya dengan malaikat penolong, seorang anak muda yang wajahnya mirip Ronaldo. Darinya saya mendapat informasi jadwal Lee Rit. Dan berkat sang malaikat itu saya akhirnya bisa menyapa Lee Rit. Saya bilang bahwa saya membawa gitar dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan. Ya, fine!! Saya segera mengambil gitar, membawa padanya. Are you sure you want me to put my signature on your guitar? Yes, off course!! Dan.. TANDA TANGAN! Huaaa.. saya gemetaran. I’m trembling. Dia ketawa. Be careful with your guitar, don’t let it drop. Haha.. Saya tidak sanggup mengucapkan keinginan saya untuk ‘DIPELUK’ karena saya sudah gemetar hanya bersandar nempel di badannya. Dia disapa banyak rekan-rekannya. Saya minta tolong salah satunya untuk memotret. Ini diaa…. Precious picture. Precius moment. Precious guitar. Terima kasih Tuhan. Hanya beberapa menit saja, Lee Rit kemudian meninggalkan hotel. Saya langsung menuju kamar, nyungsep di kasur. Gak bisa ngomong apa-apa.

I love you, Lee!! My dream comes true.. Mungkin ini satu-satunya gitar yang kau tanda tangani. ;))

Sebelum check out, saya sempat mencari anak muda berwajah Ronaldo itu. Ketemu. Saya berterima kasih. Sambil bersalaman saya bilang: “Tuhan membalas kebaikan anda”. Terima kasih. Tetapi saya menyesal tidak menanyakan siapa namanya. Ah, Ronaldo!!

37 Comments

Filed under JJF2010